Rona Penegakan Hukum Di Republik Ini.

 

Oleh : Viktor Manbait, S.H

KEFA, LINTASTIMOR.COM –Siswa SMA kelas satu,17 tahun, korban salah tangkap Polisi, di pukul hingga bibir pecah, di pukuli dengan kayu pikulan, di popor dengan pistol, diancam akan ditembak, di suruh berlutut, di borgol kedua tangannya ke belakang ,dan ditendang dengan kuat pada dada kiri,di popor dengan pistol pada dada kanan.oleh Terduga anggota polisi.

Anak kemudian menjalani perawatan 2 hari di rumah sakit dan terpaksa keluar karena ketiadaan biaya

Penyelidikannya dari Polres TTU diambil Alih oleh Penyidik Polda NTT ,dengan melakukan interogasi atas anak korban ,5 orang saksi ,saksi ahli, dan melakukan pra rekonstruksi.

Berdasarkan gelar perkara yang di lakukan polisi tanggal 16 Oktober 2029 tanpa kehadiran anak korban dan keluarganya .Di simpulkan tidak terdapat cukup bukti sehingga Penyelidikanya tidak di naikan ke tingkat penyidikan – atau kasus Dugaan salah tangkap dan penyiksaan anak ini di Hentikan Penanganannya oleh Pihak Polda NTT.

Fakta Peristiwa Dugaan Salah Tangkap Dan Penyiksaan Anak oleh Terlapor Anggota Polisi Polres TTU.

Jam 2 dini hari Minggu 26 April 2020 Anak SMA Kelas 2 ,17 tahun itu sedang tertidur pulas setelah membantu kknya merontok padi ladang pagi hingga sore hari.

Sekelompok orang ,yang di kenali beberapa diantaranya andalah anggota Polisi dari Polsek Biboki Utara dan Polres TTU membangunkan Paksa Anak yang tertidur pulas itu,setelah beberapa waktu mengamati wajah anak tersebut dengan menggunakan cahaya senter HP.

Di saksikan kakak sepupu anak yang tidur dengan anak di Pondok itu , Salah satu dari dua orang yang mendekat ke bale bale tempat anak tertidur pulas itu, menarik kuat dari tangan anak turun dari bale bale- bale tempat tidur.

Anak terbangun beridiri langsung di pukul pada mulutnya oleh satu orang yang membangunkan, Anak terjatuh ke tanah ,diperintahkan bangun dengan bibir atas dan bawah luka dan berdarah.

Anak dipegang kiri kanan pada tangannya oleh 2 orang dibawa keluar dari dalam pondok ke Depan pondok

.Di depan pondok dalam posisi berdiri di pukuli dengan kayu pikulan air dan ranting kayu oleh 2 orang yang berdiri dari kiri kanan anak. Mereka berdua memukul anak pada kaki,lutut ,kedua tangan dan punggung anak.

Anak lalu perintantahkan berlutut lalu kedua tangannya di borgol ke belakang ,dan ditanyai dengan menunjukan foto orang orang dalam HP orang yang bertanya itu Dan anak mengenali orang orang yang fotonya di tunjukan dan dicari itu karena orang orang itu bertetangga denganya ( anak sering dimintai tolong tetangga di desanya untuk menggunting rambut ), dan saat anak menjawab tidak tahu keberadaan orang orang yang mereka cari itu.anak di tempeleng.

Anak dalam posisi berlutut dengan tangan terborgol ke belakng di tendang dengan kuat pada rusuk kirinya jatuh terlentang. Di perintahkan bangun dan di ancam ,kalau berbohong akan di tembak.

Meski tanpa surat perintah penangkapan dan bukan menjadi target operasi , anak dalam keadaan kedua tangan terborgol kebelakng dibawa pergi dari pondok.

Berjalan kaki Kurang lebih 50 meter dari pagar pondok ,salah satu anggota kelompok yang berjalan di belakang anak, memukul dengan kuat ke leher kiri bawah telinga ,hingga anak jatuh terjerembab ke tanah. Di perintahkan bangun dan perjalanan dilanjutkan.
berjalan 50 meter dari tempat anak di pukul dan terjatuh itu, pada jalan sempit menanjak anak dijambak dari rambutnya oleh bsatu satu anggota dari kelompok itu agar anak mempercepat jalanya.

Anak dalam keadaan kedua tangan terborgol kebelakng ,dibawa Berjalan kurang lebih 2km dari pondok sampai ke titik jemput kendaraan.

Ditempat titik jemput ini ,salah seorang dengan mata kiri agak rusak, menyuruh anak berlutut mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke anak lalu menyuruh anak bangun berjalan membelakngi menuju kendaraan ,dan menghitung satu sampai dua hendak menembak anak yang berjalan menuju ke mobil.
Anak dinaikan keatas mobil puc up putih bagian belakang dalam perjalanan ,salah satu dari anggota polisi yang duduk di sebelah anak bertanya ke anak agar tahu dimana keberadaan orang yang mereka cari dan saat anak katkan tidak mengetahui keberadaan orang yang mereka cari , orang ini dengan menggunakan pistolnya memukul kuat pada tulang rusuk Kanan bawah ketiak anak ,membuat anak sesak bernapas sesat dan meringis kesakitan.

Dalam perjalan anak di tanya oleh anggota Polisi mengapa dia berada di Pondok kebun itu, dan untuk membuktikan kebenran cerita anak bahwa kedatanganya ke desa itu untuk mengambil handphone yang di pinjam sepupunya dan dimintai KK sepuounya untuk membantu memetik dan merontok padi, kelompok anggota polisi ini membawa anak untuk menunjukan rumah sepupu yang meminjam handphone.

Tiba disana 4 orang anggota kelompok itu turun dua membawa senter dan dua lainya membawa senjata Laras panjang.mengetuk pintu bangunkan tuan rumah.
Saat pintu terbuk dua anggota polisi masuk dan duanya di depan rumah.Dian anggota polisi bertanya ke kakak sepupu anak korban, apakah orang orang yang mereka cari itu datang ke rumahnya.
ibu – kakak sepupu ank korban katakan orang yan mereka cari itu tidak pernah datang kerumahnya.
Anggota polisi itu lalu minta hanphone milik anak korban yang dipinjam oleh anak ibu ini ( sepupu anak korban)
Setelah menyita handphone milik anak korban dari sepupunya , para polisi itu kelluarb naik mobil dan pergi ke arah Polsek Biboki Utara di Lurasik.

Dalam perjalanan kurang lebih 7 km dari desa Birunatun TKP anak ditangkap menuju Polsek Biboki Utara dengan mobil , ada telpon masuk ke telpon milik anak yang dipegang oleh anggota polisi, yang menelpon adalah salah seorang yang dicari oleh anggota polisi. Hanphone dimatikan dan anggota polisi mengatur agar anak kembali menelpon orang yang mereka cari itu untuk bertemu dengan anak di suatu tempat.

Anggota polisi katkan ,”kamu jadi umpan untuk tangkap Orang itu”.Lalu anak diperintahkan melakukan mis call ke orang yang mereka cari dan orang itu menelpon lalu dibawah arahan anggota polisi untuk bertemu di suatu tempat.
Seratus meter dari tempat yang di janjikan untuk bertemu borgol yang mengikat kedua tangan anak ke belakng di buka dan salah satu anggota polisi memberikan kembali hanphone milik anak yang di pegangnya.

Kendaraan di parkir ,mereka turun berjalan kurang lebih 200 meter ke titik bertemu yang di janjikan, di tempat yang di janjikan orang yang dicari berjalan dari Kakan jalan datang bertemu anak, lalu mereka berdua jalan beriringan sekitar 2 meter, orang yang dicari polisi itu tiba tiba berlari kencang meninggalkan anak dan dikejar oleh anggota polisi yanf bersembunyi dari kiri kanan jalan ,terdengar oleh anak satu kali suara tembakan ke udara, anak yang takut karena sebelumnya diancam akan ditembak bila tak temukan Oran g orang yang mereka cari ,melihat tidak ada yang menjaganya lari meninggalkan para pokisi itu menuju ke arah kampungnya didesa birunatun.
Berlari jauh hingga ke sebuah kali kering dan masih ada sinyal telpon,anak korban menelpon bapaknya minta di jemput dan ceirtkan kalau di tangkap polisi dipukuli dan berdarah mulutnya .

Bapak anak korban meminta bantuan 2 oranf tetangga rumah menjemput anak korban menggunakan 2 buah motor. Saat kedua orang tiba dan bertemu anak korban dalam kondsi bibirnya luka berdarah dan pincang saat berjalan.

Kedua orang itu membawa anak pulang ke rumahnya di desa kotafoun kecamatan Biboki Anleu TTU

.tiba di rumahnya sudah banyak keluarga dan tetangga yang menunggu di rumah. Anak korban ceritakan apa yang dialaminya ke kedua orang tua dan tetangga serta keluarga yang ada berkumpul itu.
salah satu diantara keluarga anak korban yang ada , menggunakan kamera handpbone milik anak, lalu foto bagian wajah dengan bibir anak yang luka, dada yang memar dan bekas tapak sepatu , tangan yang bengkak dan bekas bergol dan luka luka di tangan ,kaki dan bengkak pada betis anak korban.

Selang kuran lebih 39 menit datang 2 orang anggota polisi dari Polsek Biboki Anleu, tanya dimana anak Yan lari itu, anak korban menjawab ,namun anggota polisi itu tidak bertanya lagi Tentan kondisi anak atau akan menangkap anak,namun bercerita tentang kekerabatan dirinya dengan orang tua anak.
Tidak lama berbicara ,hanphone anggota piksi tersebut berdering dan terdengar anggota poksi ini mengarahkan orang yang menelponnya ke tempat dia berada , dan sekutar 10 menit kemduian datang 3 orang dengan dua motor. 2 orang menggunakan seragam polisi dan satu yang di bonceng Menteng 2 buah senjata Laras oanajng, memakai baju kaos dan celana pendek.
Satu anggota polsi berseragam tetap diatas motor yang di parkir dan 2 orang turun mendekat ke anggota poksi yang sudah ada terlebih dahulu .Lalu orang yang menenteng 2 buah senjata Laras panjang ,memakai baju kaos putih dan cekana pendek berjalan mendekat ke rumah dan dari sana duduk berhdap hadpan dengan anak.mengamati anak ,sekitar 5 menit ,lalu bangun menuju ke arah dua orang poksi itu dan mereka bertiga menuju ke tempat parkir motornya. Saat berjalan ke tempat motor di parkir terdengar jelas ,darinketia anggota poksinitu yang mengatakan ” Kita tangkap salah orang”
Lalu Merkea pergi dari rumah anak korban.

Sekitar setengah jam kemudian datang lagi anggota polisi Polsek Biboki Anleu itu bersma Babinsa TNI dan Kepala Desa Kotafoun. Kepala desa dan Babinsa kota foun Mengamati dan bertanya ke anak akan kondisinya. Dan kepada keluarga anak, diminta agar apa yang di alami oleh anak diselesaikan secara kekeluargaan dengan baik.

Mereka di rumah anak korban sekitar 20 menit lalu pamit pulang.

Orang tua anak yang tidak terima anaknya di aniaya sedemikian rupa dan luka luka ,pada hari Senin tanggal 27 April 2020 sekitar jam 7 malam, tiba di polres ttu melaporkan apa yang dilami oleh anak.

Sementara diambil keterangan di ruang SPKT, datang kasat reskirim,meminta agar anak tidak boleh melaporkan peristiwa tersebut,karena anak bukanlah target iprasi dan tidak ada surat perintah untuk mebawa anak .Dan anak adlah umpan ,jadibtidak benar anak dianiaya.

Kedua orang tua anak tetap melaporkan peristiwa tersebut dan kasat reksrim katakan, bila demikain anak harus jujur karena ada juga yang melihat anak ada bersama sama dengan orang orang yang mereka cari karena melempar anggota polisi . Anak bisa jadi tersangka juga bila melapor.

Saat polisi datang membawa anak ke RSUD kefamemanu untuk dilakukan visum,rumah sakit dalam keadaan gelap listriknya padam, semntara rumah rumah sekeliling rumah sakit terang benderang nyala listriknya.

Dokter jaga di IGD RSUD karkan mereka tidak bisa melayani visum karena listriknya padam,dan kalaupun listriknya menyala mereka tidak bisa melakukan rongent karena alat rongentnya tidak berfungsi.

Polisi membawa kembali anak korban ke kantor polisi mengubah tujuan surat visum lalu membawa anak koban untuk di visum ke rsu Leona Kefamenanu.
Setelah menjalani visum anak korban menjalani perawatan selam 3 malam 2 hari sampai tanggal 29 April 2019 dan harus keluar dari rumah sakit akibat ketiadaan biaya.
Anak korban memiliki kartu BPJS namun menurut pihak rumah sakit Leona ,atas kondisi sakit akibat penganiayaan seperti yg dialami oleh anak tidak dapt di tangani dengan BPJS .

Peristiwa penganiayaan atas anak ini ditangani beberapa waktu oleh Polres TTU dan di ambil alih penyelidikannya oleh Polda NTT sejak tanggal 1 Mei 2020, dengan melakukan pemeriksaan interogatif atas anak korban , 1 orang saskibTKP, 1 orang saksi yang datang menjemput anak sesaat kejadian dan saksi ibu anak korban dan tanggal 28 Juni 2020 oleh penyidik Polda NTT dan propam Polda NTT pada tanggal 28 Juni 2020.Dan melakukan pra rekoenstruksi pada tanggal 8 Juli ..2020.

Dalam pra rekontruksi 15 adegan di peragakan , terdapat fakta fakta peristiwa yang tidak di ragakan,seperti saat anak korban di Jambak dari rambutnya untuk berjalan cepat di jalan menanjak, anak di todong dengan pistol dan diancam akan di tembak dengan menyuruh anak berjalan dan pelaku menghitung satu…sampai dua…,tidak dilakukan penodongan pistol ke dalam mulut saksi TKP tidak dilakukan. Dilakukan adegan anak di pukul di dada saat dalam pondok, yang berdasarkan fakta sebenarnya tidak pernah terjadi.

Pada tanggal 19 Oktober 2020, anak korban mendapat surat dari penyidik Polda NTT yang memberitahukan bahwa laporan anak atas dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh anggota polisi tidak cukup bukti untuk di tigkatkan penangananya ke tingkat penyidikan. Peristiwa tersebut dihentikan penyelidikannya. ( *** )

Pos terkait