“IN MANUS TUAS DOMINE” KLARIFIKASI ATAS SURAT HIBAH FITNAH PATER BOLLEN TERHADAP DIRI SAYA.

Klarifikasi surat Wasiat Dugaan Fitnah Pater Bolen Terhadap Diri saya ( Silvester Nong Manis)

MAUMERE, LINTASTIMOR.COM– Klarifikasi atas  dugaan surat wasiat fitnah Pater Bolen Terhadap diri Silvester Nong Manis yang disampaikan oleh Ketua Badan Pengurus Yaspem’ Ir.Agustinus Romualdus Heni saat menggelar Konferensi Pers dengan sejumlah wartawan, di Kantor Yaspem, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu ( 30/1/2021).

Isi Surat Klarifikasinya sebagai berikutk:

1. Tuduhan Pater  bahwa

Kepengurusan Yaspem (Yayasan Sosial Pembanguanan Masyarkat) periode sebelumnya 2011-2016 tanpa kehadiran Pendiri dan Ketua Pembina Yaspem diduga adalah sebuah rencana kejahatan  yang dilakukan secara sistematis dan terencana.

Tuduhan di atas adalah fitnah. Karena ternyata di dalam Anggaran Dasar Yaspem tercantum dengan jelas dan tegas bahwa yang hadir dihadapan Notaris kala itu adalah Pater Bollen sendiri bersama Bapak Romanus Woga sekaligus mewakili Bpk. V.B. da Costa dan saya;

2. Pada poin satu surat wasiat  fitnah itu pater mendalilkan :

“apabila saudara bermaksud baik untuk menjaga dan memelihara visi dan misi yang tertuang dalam anggaran dasar seharusnya saya selaku ketua pembina dan anggota pembina diundang dapat bersama-sama membentuk pengurus baru guna melanjutkan program yang sejalan dengan maksud dan tujuan pendirian Yaspem.

Tanggapan saya :

Bagaimana mungkin saya melibatkan Pater, karena pada kenyataannya pater sudah mengundurkan diri sejak  tanggal  24 Agustus 2015. Pengunduran diri pater ini diawali dengan safari pater ke SVD dan ke Bapak Uskup Maumere untuk berkonsultasi, apakah ia masih harus tetap sebagai Pembina atau berhenti sebagai pembina YASPEM. Akhirnya Pater disarankan oleh SVD dan Bapak Uskup untuk mengundurkan diri karena alasan lanjut usia.

Atas pertimbangan yang demikian itu, maka Pater menulis email kepada saya tertanggal 11 Agustus 2015 jam 12.07 PM. agar saya mempersiapkan Surat Undur Diri Pater. Tapi karena alasan Pater sakit, tanda tangan surat undur diri yang sedianya dilaksanakan di Jakarta, ditunda untuk beberapa waktu.

Ketika saya ke Maumere untuk urusan pelayanan dan bantuan hukum, saya  ketemu Pater, lalu pater tanya : “Sil, mana surat undur diri saya?”
Akhirnya saya minta Alfred Wempy print out suratnya, tertanggal 24 Agustus 2015, lalu pater menandatanganinya dihadapan saya dan Alfred Wempy. Sejak itu tugas, fungsi dan wewenang Pater selaku pembina, otomatis ikut tanggal.

Bagaimana mungkin saya melibatkan pater dan berkonsultasi dengan Pater, kalau Pater sendiri bersama pengacaranya dan bersama MARIA MAGDALENA, secara ilegal sedang  merestrukturisasi anggota organ Yaspem?

Dengan demikian, dalil poin 1, 2 dan 3, sekaligus terjawab, karena semuanya berjalan sesuai dengan koridor hukum yang ada.

3. Dalil Pater poin 4, “Bahwa seyogyanya saudara harus menyadari tujuan pembentukan Yaspem adalah pembentuk membantu masyarakat kecil yang mempunyai kesulitan terutama para fakir miskin, yatim piatu sehingga para pengurus Yaspem harus betul-betul memahami hakekat dari visi dan misi yaspem

Tanggapan Saya :

Puluhan tahun saya bekerja dalam diam melayani orang kecil yang tertimpah bencana ketidak-adilan hukum sesuai visi misi pater yang tertuang dalam anggaran dasar Veritas dan Yaspem dengan tanpa berkeluh kesah, tanpa pamri.
Tugas saya sekarang adalah  tetap jaga visi misi Veritas dan Visi misi Yaspem.
Dengan demikian tuntutan kredibilitas pengurus dalam menjalankan program kerja Yaspem, menjadi penting adanya.

4. Terhadap dalil poin 5.

Keputusan Pengurus yang saya bentuk, keputusan yang mana? Tentang apa? Karena banyak keputusan pengurus yang saya bentuk, termasuk salah satunya  adalah menyelenggarakan Renstra, yang dari hasil renstra tersebut salah satu poin yang sudah dijalankan adalah  melakukan audit terkait  penyalahgunaan keuangan SEA WORLD CLUB, sekitar kurang lebih RP. 3 miliyar rupiah, selama masa kepemimpinan Martin Wodon yang Pater tunjuk, antara lain secara ilegal membiayai usaha sabotase YASPEM yang dimotori oleh MARIA MAGDALENA dan secara ilegal pula  memilih  anggota organ Yaspem baru, namun pada akhirnya mentok karena terhalang oleh hukum.

5. Dalil lain yang pater tuduhkan kepada saya masih  pada poin 5,  yang katanya saya  disinyalir melakualn sebuah rencana jahat yang dilakukan secara sistematik, terencana melalui pembentukan pengurus periode 2011-2016;  adalah sebuah fitnah yang keji.
Bagaimana mungkin saya melakukan sesuatu yang saya sendiri tidak memghadirinya dan tidak mengambil bagian didalamnya. Karena yang hadir dihadapan notaris kala itu adalah Pater dan Bpk. Romanus Woga, sekaliguscmewakili Bpk. V.B. da Costa dan Saya.

Yang jalas secara etika dan moral serta hukum, selaku pembina Yaspem saya dapat pertanggungjawabkan atas tuduhan itu,  walaupun saya paham betul bahwa yang menuduh itulah yang wajib membuktikan tuduhannya.

4. Dalil poin lima terkait jabatan saya, baik di  YBBH Veritas maupun di Yaspem, apakah itu merupakan belas kasihan pater? Hal  itu hanya pater yang tahu. Karena selama puluhan tahun saya hidup dan berkarya bersama Bpk V.B. da Costa dam Pater,  saya hanya menempatkan diri sebagai pesuruh murni. saya tidak pernah berharap apa-apa atas abdi saya, saya juga tidak  pernah meminta jabatan, saya juga tidak pernah meminta Pater harus menghidupi saya dan anak istri saya.

Perlu diketahui pula, karena beban tanggung jawab atas tugas pelayanan yang saya emban begitu berat, maka pada tahun 2002 Setelah membela Tibo, Cs. Di Poso, saya meminta kepada Bpk V.B. da Costa agar saya ada di luar YBBH Veritas,  namun
Bpk. V.B. da Costa diam, ia tidak menjawab sampai dengan ia menghadap sang Khalik

Terhadap Yaspem, ketika saya dipaksa oleh orang kepercayaan Pater, yaitu Paul Djuadi agar Sea World Club pisah dari Yaspem, dengan tegas saya katakan, tidak. Ia lalu dengan keras memghardik saya, dia bilang : “Sil, kalau saya masih muda seperti engkau, saya sudah caplok itu SEA WORLD CLUP, saya langsung jawab, jika demikian maunya Om, saya siap mundur dari Pembina.  Atas keinginan Paul Djuadi ini,  Pater Bolen juga pernah menegur Paul Djuadi, pater katakan, he Paul apakah engkau mau ambil SEA WORLD CLUB? Suatu waktu, ketika rapat pembina (Pater, V.B. da Costa dan saya), Paul Djuadi juga hendak masuk terlalu jauh untuk urusan Yaspem, akhirnya Paul Djuadi dibentak dan disuruh stop bicara oleh V.B. da Costa.

Jujur, memimpin YBBH VERITAS dan YASPEM, itu adalah sebuah  beban; untuk VERITAS, Bpk. V.B. da Costa pergi hanya meniggalkan kami anak-anak didiknya dan lembaga dengan keuangan minus. Walaupun demikian, kami tetap eksis memberikan pelayanan dan bantuan hukum sampai dengan sekarang ini. sedangkan untuk YASPEM, saya hanya diwarisi beban masalah yang antara lain diciptakan oleh Pater sendiri, antara lain berkelahi dengan Ricard dan Gizela yang pater percaya sebagai Marketing Hotel SWC. Pater juga berupaya melaui pengacaranya, secara ilegal  membentuk pegurus Yaspem baru, namun kemudian mentok karena terhalang oleh aturan. Keuangan SWC dipegang dan dikelola oleh Pater sendiri,  sehingga orang-orang terdekat Pater senantiasa menyalahgunakan kepercayaan Pater, sehingga keuangan SWC sering minus.

Lalu, apa tugas saya sekarang?

Sampai demgan sekaramg tugas saya untuk YASPEM, tetap, tidak berubah, yakni  kawal misi dan visi Pater yang tertuang dalam Anggaran dasar YASPEM, Jaga aset Yaspem supaya tidak tercecer keluar; jaga anggota komunitas Yaspem agar tetap kompak, tidak boleh ada satu pun anggota yang tercecer di luar. Selain itu melakukan bersih-bersih, dengan mulai melakukan audit  keuangan,  serta menerapkan transparansi manajemen, terutama manajemen keuangan. Karena sebelumnya keuangan  hotel SWC hanya Pater dan orang- orang kepercayaan pater yang tahu.

Dan yamg perlu dicatat, pembina YAYASAN tidak digaji, oleh karena itu selama ini banyak uang pribadi saya yang keluar untuk tugas pembinaan saya di Yaspem. Saya hanya diberi gratis penginapan dan makan minum.

Jadi mengurusi VERITAS dan YASPEM itu adalah salip yang sudah menjadi bagian dalam perjalanan  hidup saya yang harus saya pikul.

5. Dalil Pater pada poin 6, alinea pertama, sudah terjawab pada poin dua  di atas; semuanya transparan, semuanya tanpa rekayasa, yakni diawali dengan konsultasi pater ke SVD dan ke Bapak Uskup, kemudian Pater minta saya melalui email agar saya buatkan surat undur diri, lalu Pater tandatangani dihadapan  saya dan Alfred Wempy, pada tanggal 24 Agustus 2015.

Dan sejak tahun 2015 itu pula Pater tuntas merampungkan statusnya sebagai pembina di Yaspem dan aset-aset  Yaspem dengan menyatakan sikap dihadapan Notaris yang ditujukan kepada Provinsial SVD, dimana  pada pokoknya  ditegaskan bahwa Pater tidak punya harta milik pribadi,  Semua harta atas  nama YASPEM, Pater juga tidak punya anak angkat.

6. Dalil pater poin 6, aline kedua, terkait dengan pergantian pembina, dengan penuh rasa tanggung jawab sudah saya jalankan, yaitu, ketika pater meminta agar Alm. Bpk. V.B. da Costa digantikan oleh Bapak Nong Susar, yang kala itu menjadi Wakil Bupati Sikka, Bapak Nong Susar hanya menjawab : “Sil, apakah Om Romanus Woga, Heny Doing dan Rafael Raga serta engkau  sendiri tidak mampu, jadi saya harus kesana (menjadi Pembina Yaspem)?” Karena jawaban yang demikian itu maka saya sampaikan kembali kepada Pater dan mengusulkan Bpk Falentinus Pogon untuk menggantikan Bpk V.B. da Costa, sebagaimana sebelum meninggalnya, Bapak V.B. da Costa, ia meminta agar Falentinus Pogon untuk  menggatikan beliau ketika dia sudah tidak ada. Mendengar usulan itu, pater marah besar dan mengusir saya dengan ancaman, Pater akan  menghadirkan Pengacara Pater untuk merombak semua anggota organ Yaspem. Dan itu benar dilakukan oleh Pater melalui  kuasa hukumnya dari Kedutaan Jerman, lalu ditambah lagi Wue Robert Bait Keytimu.  Upaya ilegal ini  menelan biaya yang begitu besar. Tapi sayang semua urusan itu mubazir karena bertentangan dengan undang undang.

7.  Dalil poin 7, terkait dengan tuduhan bahwa pengurus
yang saya bentuk adalah cacat, namun anehnya, Pengacara Pater, baik yang didatangkan dari Kedutaan Jerman dan dari Wue Robert Bait, tidak mempersoalkannya. Kementerian Hukum dan Ham pun tidak mempersoalkannya, bahkan mengesahkannya. Anehnya, Pater malahan menyimpan semua permasalahan tersebut kedalam brangkas sebagai wasiat.

Kemudian baru saya tahu, bahwa  Pater simpan dendam  terhadap saya untuk dihibahkan keda orang yang tidak bertanggung jawab, supaya orang-orang itu rame-rame memfitnah saya, ketika pater sudah tidak ada lagi?

Walau masih ada tanya :

1. Apakah Surat Fitnah Pater yang ditujukan kepada saya juga  merupakan objek Wasiat?
2. Jikalau sebagai objel wasiat siapa yang diberi wasiat?
3. Apa tujuan pemberian wasiat itu?
4. Apakah untuk mewariskan fitnah?

Ini mungkin bagus kalau Pakar hukum Wue Marianus Gaharpung yang jawab. (Athy meaq)

Pos terkait