Satu Pemuda Asal Nebe Tewas Dikeroyok Tiga Orang Rekannya

Editor: Agustinus Bobe,

MAUMERE,LINTASTIMOR.COM-Seorang pemuda berinisial SA (21) asal Blawuk, Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT,  tewas pasca dikeroyok oleh 3 orang rekannya pada Minggu ( 9 /5/2021).

Peristiwa berdarah maut ini terjadi di Jalan Raya Ojang Muding, Desa Nebe, Kecamaatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Ketiga pelaku pengeroyokan masing-masing berinisial D (20 ), C ( 20 ) dan V (25 )
beralamat Dusun Blawuk,  Desa Nebe,  Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Ketiga pelaku ini pun  telah diamankan polisi dan kini menghuni kamar trali besi di  Rutan Polres Sikka, Polda NTT.

Perss  rilis yang diterima media lintastimor.com dari Kapolres Sikka AKBP Sajimin melalui Kasubag Humas Polres Sikka, Iptu Margono, Senin (10/5/2021) menjelaskan Tim Kepolisian telah meminta keterangan tiga saksi yakni Fransika Yenata Debora (21), Yan (30
tahun), Beby (30 ) warga Ojang Muding, Dusun Blawuk B, Desa Nebe, Kecamatan Talibura.

“Polisi telah dan sedang mendalami tiga keterangan saksi ini,” kata Iptu Margono.

Kasubag Humas Iptu Margono membeberkan kronologi kasus pengeroyokan ini bahwa  pada Minggu (9/5/2021) sekitar pukul 17.00 WITA, korban bersama tiga pelaku dalam keadaan mabuk usai menenggak minuman keras (miras) jenis moke putih, dan setelah itu korban berdiri di pinggir jalan dan menghalangi kendaraan roda dua dan roda empat yang melintas di Jalan Raya Kota Maumere – Larantuka.

“Para pelaku melarang korban untuk tidak menghalangi arus lalu lintas di jalan raya tersebut. Berselang beberapa saat  kemudian para pelaku dan korban berkelahi atau kontak fisik. Setelah itu istri salah seorang pelaku bernama Rina
memarahi korban dengan mengatakan bahwa kamu minum moke tidak taruh diperut tetapi kamu berdiri dan palang di jalan raya,” kata Iptu Margono meniru ucapan Rina.

Setelah itu, kata Iptu Margono, istri pelaku III atas nama Rina membawa korban ke rumah saksi I, korban berkeberatan dan mempertanyakan kenapa ia diantar ke rumah saudarinya dalam kasus ini
sebagai saksi I.

“Lalu Saksi I menyampaikan kepada korban agar ia langsung ke rumahnya (korban), jangan ke rumah saksi I. Lalu pelaku III memarahi istrinya atas nama Rina dengan mengatakan ‘buat apa bawa dia, nanti
saya pukul kau’. Mendengar itu, istri pelaku III bernama Rina melepas korban dan korban kembali ke rumahnya,” tutur Iptu Margono.

Selain itu, korban tetap berdiri di jalan raya. “Saksi I melihat para pelaku sedang memukul korban, dan tidak lama kemudian saksi I melihat korban sudah dalam keadaan berlutut ( sujud )
dan saksi I melihat pelaku III atas V memukul korban sebanyak satu kali, dan tidak lama kemudian saksi I melihat pelaku III atas nama V menggendong korban ke atas bale – bale milik pelaku III berinisial V. Setelah itu, saksi I datang melihat korban yang saat itu di atas bale – bale namun sudah tidak bernapas lagi. Saksi I langsung menangis.

Lalu Saksi Yan menyampaikan agar korban bawa ke Pukesmas karena sudah tidak bergerak lagi. Selanjutnya, korban langsung dibawa ke Puskesmas Watubaing. Setelah tiba di Puskesmas Watubaing, petugas medis Puskesmas Watubaing menyampaikan bahwa korban sudah tidak
bernyawa lagi atau sudah meninggal dunia,” jelas Iptu Margono.

Iptu Margono menambahan bahwa pelaku dan tiga korban masih ada hubungan kekeluargaan.“Pada saat kejadian para pelaku dan korban dalam keadaan mabuk minuman keras.

Saat ini korban telah dibawah oleh keluarga dan disemayamkan di rumah duka,” kata Iptu Margono. ( athy meaq)

Pos terkait