Warga Malaka Barat Minta Bupati Buat PERDA Tentang Adat

Editor: Agustinus Bobe,

BESIKAMA, LINTASTIMOR.COM– Kepala Dusun Kleik, Desa Motaulun, Kecamatan Malaka Barat, Besikama, Kabupaten Malaka , Provinsi NTT, Yoseph Klau meminta Bupati Malaka DR.Simon Nahak, S.H, M.H untuk menerbitkan  sebuat Peraturan Daerah ( PERDA) Tentang Adat Istiadat.

Yoseph Klau mengatakan hal ini kepada Lintastimor.Com di Dusun Kleik, Desa Motaulun, Senin (2/8/2021) bahwa kondisi adat perlu di perbaharui di saat ini.

Lantaran,  dampak dari adat istiadat ini adalah kemiskinan dan terbelilit hutang warga di Malaka.

Untuk itu, warga perlu mendapatkan kebijakan secara massal sehingga warga setempat bisa menerima pergumulan  dari setiap suku.

Perbaruan adat istiadat ini, menurut Kepala Dusun Yoseph Klau, maksudnya bukan untuk  menghilangkan atau memutuskan ritual adat setempat.

Namun perlu ada perhatian pemerintah daerah agar saling memberikan kesempatan demi memperbaiki perekonomian rakyat itu sendiri,” ujar Yoseph.

Kepala Dusun Kleik Yoseph Klau menyisahkan pengelamannya bahwa  sukunya mengalami dukacita  berkepanjangan dalam keluarganya sebanyak tiga kali berturut – turut pada bulan Juli 2021.

Sehingga apabila ada keluarga yang lain mendapatkan hal yang serupa,
maka kesempatan untuk saling membantu itu terbatas sekali.

“Bagaimana kalau kita minta Bapak Bupati  Malaka Simon Nahak untuk membuatkan satu aturan atau PERDA kepada masyarakat mulai sekarang kita coba dulu,” usulnya.

Ia menyebutkan ini di  dihadapan  sejumlah mahasiswa KKN, dari Kampus UNKRIS Kupang di Dusun Kleik , Desa Motaulun, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, pada Senin 2 Agustus 2021 siang

“;Saya akan menghadap bapak bupati kabupaten Malaka untuk buat PERDA tentang  soal adat di Kabupaten Malaka secara universal dan  khususnya di  dusun Kleik ini.

Karena ini kondisi buruk dan mencekamkan ekonomi rumah tangga. Dalam bahasa tetun fehan mengatakan adat troi nuu nee hau atu kba kusu buapati bet nalu aturan ida lai ba mutu maten keta warak holi,” ucap Kadus Yoseph Klau.

Yoseph Klau saat kumpul adat untuk dukacita yang bertubi-tubi di alami suku dan keluarganya. Tujuan pemerintah membuat PERDA tentang adat istiadat itu untuk membatasi tuntutan adat dari pihak keluarga laki – laki maupun perempuan.

Misalnya, ada kematian dari pihak keluarga laki atau perempuan adat yang dibebankan adalah uang, babi, sapi, kain adat, beras dan lain – lain. Laki- laki wajib membawa beban adat  yang amanatkan oleh tua adat dalam suku itu.

“Biar ada aturan untuk meringankan dan menjaga status sosial warga, dimana bagi yang merasa berkecukupan akan tetap memutuskan untuk dukanya berkenduri seketika, dan ini akan menelan biaya tidak sedikit kemudian pada dasarnya adat itu sendiri menjadi beban moril setiap warga.

Hal ini sudah pasti mempengaruhi ekonomi warga dalam rumah tangganya. Bagi yang berpenghasilan baik dan sudah mengumpulkan biaya sebelumnya itu merasa biasa biasa saja. Namun mereka yang perekonomian lemah akan berdampak sekali. Soal adat soal perasaan. Bagaimana mengaturnya agar bisa memperbaikinya.

Dalam perbincangan itu katanya lebih baik kita buatkan kesepakatan untuk ada meninggal hanya bisa diizinkan kenduri setelah 1 tahun.

Di sebuah wilayah dari waktu yang ditentukan atau bulan yang diinginkan. selain itu, tidak ada kenduri. Sebelum sebelum itu sudah ada dari gereja juga sudah membatasi acara pernikahan sambut baru dan lainnya.dan sekarang kematian ini juga perlu diatur untuk memperkuat keputusan yang ada di setiap wilayahnya sesuai keputusan Ketua suku tersebut.

Kesulitan bagi warga karena tidak semua keluarga bisa sepakat jika tdk ada aturan yang mengikat. Dengan ini di mohon perhatian pemerintah desa , kecamatan,kabupaten ,propinsi dan pusat,agar hajatan dapat di kontrol dengan baik dan cukup tentunya perekonomian rakyat akan stabil selamanya,” terang Yoseph Klau.(Rofinus Bria)

Pos terkait