Warga Desa Air Putih Diduga Jadi Korban Aniaya Oknum Provos Polda Riau

Editor: Agustinus Bobe,

RIAU, LINTASTIMOR.COM– Warga Desa Air Putih, Kecamatan Tampan, Kabupaten Pekanbaru, Provinsi Riau, ibu Evy Sitinjak (52) kepada Lintastimor.com melalui jaringan selulernya, di Riau, Kamis ( 25/11/2021) menuturkan, dirinya menjadi korban kekerasan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum provos  dan propam Polda Riau secara bersama – sama pada tahun 2018.

Kasus dugaan ini pun telah dilaporkan ke Propam Polda Riau tertanggal 22 September 2018 dengan nomor laporan polisi  LP/469/IX/2018/ SPKT/ Riau.

Ia menjelaskan, kasus kekerasan ini bermula dari anaknya Sherwin Alfedi Hutapea yang sepeda motornya diduga dirampas oleh oknum Polsek Tampan.

Dugaan dirampas sepeda motor milik  Sherwin Alfedi  Hutapea oleh oknum Polsek Tampan tersebut dengan berdalih melakukan penilangan.

Namun, tidak ada surat penilangan dari oknum Polsek Tampan. Sehingga Ibunda Evy Sitinjak melakukan protes keras terhadap oknum Polsek tersebut.

” Saya tidak terima bahwa sepeda motor anak saya ditilang. Karena saat itu mereka tilang tanpa ada surat tilang. Dan kami diminta untuk bayar uang tilang sebanyak Rp 500 ribu.

Kami sudah siapkan uang tersebut untuk membayar sesuai dengan permintaan. Tetapi sesudah sampai di Polsek, polisi menyuruh anak saya untuk tandatangan dulu berita acara tilang itu. Maka saya tidak mau karena motor itu bukan ditilang melainkan dirampas tanpa dasar hukum yang jelas,” tutur Evy Sitinjak.

Evy Sitinjak pun tidak puas dan hendak melapor ke Polda Riau.

” Saat saya mau melapor ke Propam Polda Riau, disaat itulah terjadi kekerasan terhadap diri saya. Saat saya mau naik ke lantai II untuk melapor ke Humas Polda Riau ada oknum Provos  wanita dan propam laki- laki membentak saya. Kamu mau kemana ibu? . Saya mau ke lantai dua untuk menjumpai Kapolda dan Humas. Oknum provos mengatakan tidak ada orang tidak humas mereka tugas keluar lapangan semua.

Saya terus menaiki tangga ke dua oknum provos Sman dkk mereka ramai – ramai tarik paksa, dan saya jatuh terguling.

Kasus ini pun saya dengan penasihan hukum membuat lapor polisi ke Polda Riau.

Setelah kami buat laporan beberapa hari kemudian ada surat pemberitahuan tentang laporan yang kami laporkan.

Yakni melaporkan dugaan tindak pidana penyaniayaan secara bersama – sama sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 170 KUHP yang dilakukan oleh saudara Sutarman dkk sesuai dengan laporan polisi nomor LP/469/IX/2018/SPKT/ Riau,” demikian kutipan dari surat pemberitahuan penyidik Polda Riau.

Prosesnya pun terus berjalan. Namun ibu Evy Sitinjak merasa tidak puas karena di dalam BAP hanya periksa dua oknum pelaku saja, sedangkan provos wanita berapa orang itu tidak diperiksa. Ada apa dengan mereka itu?.

” Saya tidak puas mengapa kasus ini tiba -tiba di SP3 kan tanpa ada pemberitahuan kepada saya. Ada apa dengan semuanya ini?. Di dalam BAP itu pun dua orang oknum pelaku yang diperiksa sedangkan provos wanita ada beberapa orang itu tidak diperiksa dalam BAP nama mereka tidak ada. Ada apa itu?”

Maka pada kesempatan ini, saya mohon kepada bapak Kapolri di Jakarta untuk memberikan atensi terhadap kasus yang saya derita ini,” pintanya.

Hingga berita ini dipublikasikan redaksi lintastimor.com  mengkonfirmasi Kasubdit 3 Polda Riau, Hernis Sitinjak  melalui aplikasi WhatsAppnya  pihaknya tidak memberikan respon.( tim)

Pos terkait